Rutinitas yang Membunuh

http://restofmylife.multiply.com
restofmylife.multiply.com

Hari ini seperti hari kemarin dan hari-hari yang lain saya selalu bergelut dengan rutinitas pekerjaan yang selalu menunggu. Setiap hari kerja selalu bertemu dengan pekerjaan yang itu-itu saja, kalaupun ada yang lain itu paling hanya sesekali saja. Pekerjaan rutinitas menjadi lebih mudah dan cepat, karena semua konsep sudah hapal di luar kepala. Pekerjaan yang awalnya dulu baru bisa diselesaikan selama 1 jam, sekarang bisa rampung dalam waktu 30 menit… ya itulah rutinitas, semua bejalan teratur dan terus-menerus dalam waktu lama, sehingga kita menjadi hapal tanpa membuka buku teori sekalipun. Namun, setelah diteliti hasil pekerjaan rutinitas kita ternyata tidak 100% benar dan bebas dari kesalahan.

Mengisi data-data pasien merupakan pekerjaan rutinitas yang saya lakukan tiap kali bekerja. Nama, umur, nomor regester, bangsal, tanggal tindakan, dll, dsb, dan masih banyak lagi. Dalam keadaan normal, dengan dikerjakan sungguh-sungguh, saya bisa mengerjakan mengisi data pasien ini dalam waktu 30 menit untuk 8 pasien. Namun, karena pekerjaan ini sudah menjadi rutinitas, saya bisa mengerjakan dalam waktu yang relatif lebih singkat, kira-kira 15 menit… wuz… wuz… dengan tulisan yang diseret-seret khas tulisan anak TK, malah mungkin lebih bagusan tulisan anak TK, pekerjaan telah selesai. Saya pernah iseng-iseng meneliti hasil pekerjaan saya, waduh, ternyata banyak juga kesalahan yang saya lakukan. Saya pernah salah memasukkan data, kolom nama yang seharusnya saya masukkan nama pasien saya isi dengan nomor regester, atau sebaliknya, jadinya saya harus meralat dengan cara mencoretnya dan menulis lagi di sela-sela tempat yang masih kosong. Jadi belepotan deh… Pernah juga saya menulis nama dokter kebalik dengan nama pasien, fatal deh….

Manusia beribadah sebetulnya juga mengerjakan suatu rutinitas. Shalat 5 waktu sehari semalam, shaum Ramadhan sebulan dalam setahun, zakat fitrah, dan banyak ibadah lainnya. Lalu, bagaimana bila ibadah hanya dijadikan sekedar rutinitas, rutinitas untuk sekedar menggugurkan kewajiban hamba terhadap Rabbnya? Saya yakin akan banyak kesalahan di dalamnya, mungkin dari segi gerakan shalat, atau bacaan, dan yang lainnya.

Saya pernah menjadi makmum di belakang imam yang menurut saya shalatnya sangat cepat, express… mungkin karena sudah menjadi rutinitas, jadi semua gerakan dan bacaan sudah hapal di luar kepala. Ketika shalat berakhir sang imam memimpin dzikir dan doa dengan keras juga cepat sekali. Duh… kenapa bacaannya jadi kacau begitu… lafadz “Allahu Akbar” yang dibaca berulang-ulang 33x menjadi LOBAR LOBAR LOBAR….. Kacau kan…

Saya juga pernah mengalami hal serupa, ketika shalat saya jadikan rutinitas dan penggugur kewajiban, bacaan shalat saya menjadi kacau. Bacaan doa iftitah yang menurut saya hapal di luar kepala ternyata ketika saya lafalkan dengan pelan-pelan benar-benar hilang di luar kepala. Padahal doa iftitah selalu saya lafalkan secara teratur minimal 5 kali sehari. Karena saya lafalkan dengan cepat maka saya tidak menyadari kalau sebetulnya bacaan saya ada yang terlupa. Itulah efek rutinitas yang kadang tanpa kita sadari, kita membuat kesalahan secara terus-menerus dan secara rutin.

Pekerjaan rutinitas memang suatu hal yang tidak mungkin kita hindari secara terus-menerus, ia akan hadir di kehidupan kita. Ya… hidup memang rutinitas, dan rutinitas yang lama kadang menimbulkan kebosanan, juga menumbuhkan anggapan sepele terhadap rutinitas. Kerjakan rutinitas dengan sungguh-sungguh seperti awal kita mengenal pekerjaan itu. Dalam hal keduniaan kadang kita akan menemukan rutinitas baru untuk menggantikan rutinitas lama yang sudah menjemukan, tapi dalam beribadah kita tidak mungkin menemukan hal itu.

Rutinitas ibadah shalat wajib 5 waktu tidak mungkin akan kita hilangkan dari kehidupan kita selama kita masih mengaku beriman islam dan ikhsan. Kalau dalam hal keduniaan bolehlah kita bosan dengan rutinitas, tapi dalam shalat wajib 5 waktu tidak boleh ada kata bosan. Setiap kali shalat dari subuh ke subuh anggap itu suatu rutinitas baru. Lafalkan pelan-pelan semua bacaan shalat untuk menghindari kesalahan, pahami juga arti bacaan agar kita mengerti apa yang kita ucapkan. Secara berkala tes kembali bacaan shalat anda dengan membuka buku panduan shalat, karena siapa tahu ada bacaan yang terlupa. Koreksi terus secara rutin untuk membenarkan rutinitas kita yang kadang menjadi salah.

Selanjutnya… siapkah kita semua mengoreksi rutinitas kita secara rutin… mari laksanakan bersama-sama, demi menuju kebaikan, juga jangan bosan ya….

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tags : , ,

Google Reader Yahoo Facebook Twitter Digg FriendFeed Delicious Google Translate
This entry was posted onJanuary 30th, 2012 at 11:02. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can Leave a response, or Trackback.

12 Responses

Comments(12)Trackbacks(0)

  1. aming

    pengalaman shalat cepat itu juga terjadi dikampung saya, kalau saya mau bilang tidak syah, saya bukan Alloh, tapi kalau bacaannya menjadi rancu apa shalat kita diterima???

    January 31, 2012 10:29 | #1 @
  2. Realodix

    Walaupun istilahnya sudah terbiasa, tp tetap ada salahnya jug ya. Seperti di atas, nama diisi nmr register.. :)

    January 31, 2012 12:36 | #2 @
  3. Edso

    semua tegantung pada “niat” nya….
    yang lebih penting lagi… semua terserah pada-NYA

    February 1, 2012 09:47 | #3 @
  4. jarwadi

    tulisan ini dalam sekali mas, tidak hanya masalah rutinitas, menurutku lebih pada philoshipical driven

    February 1, 2012 09:55 | #4 @
  5. genial

    rutinitas terjadi karena sesuatu itu diberangkatin dari ‘kewajiban’.. makanya ada istilah menggugurkan kewajiban seperti yang akangnya bilang di atas.. yang lalu kesemua rutinitas itu jadi habit.. jika sesuatu uda jadi habit.. ketika kita ngelakuin kesalahanpun akan terasa ‘bukan seperti’ kesalahan.. brrgghhh..

    jika ini dikaitkan dengan ibadah.. bagaimana kata ‘kewajiban’ yg nantinya akan jadi rutinitas ini kita ganti jadi ‘kebutuhan’..?!?!? hhmm…

    February 1, 2012 13:39 | #5 @
  6. fanz

    makasih tulisannya mas.. ngena banget buat saya mas.. kadang saya shalat hanya untuk mengugurkan kewajiban saja. semoga bisa lebih baik lagi

    February 1, 2012 20:34 | #6 @
  7. iklan baris bagus

    kok gambarnya multiply yah, padahal multiply udah jadi situs toko online :D

    February 2, 2012 17:37 | #7 @
  8. @helgaindra

    dulu saat masih sekolah saya sering tuh terburu-buru dalam sholat maupun dzikir,
    tapi sekarang alhamdulillah saya bisa menggunakan waktu yang disediakan untuk sholat dengan cukup khusyu’(menurut saya sih)

    gak lagi deh sholat terburu-buru.
    kewajiban sholat harus jadi yang utama

    February 3, 2012 00:03 | #8 @
  9. Miftahgeek

    Manusia ga terlalu jago dalam hal rekursif (berulang-ulang), alhamdulillah masih ada kesempatan untuk ber-muhasabah..

    February 3, 2012 16:19 | #9 @
  10. Mixer Roti

    semoga kita memahami ibadah yg kita laksanakan…

    February 7, 2012 14:19 | #10 @
  11. Gusti 'ajo' Ramli

    semoga ibadah yang kita laksanakan di terima disisiNYA,

    February 16, 2012 23:36 | #11 @
  12. iklan baris gratis

    mantapp gan,,, semangat2….

    February 22, 2012 16:49 | #12 @

Leave a Reply

(Ctrl+Enter)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>